Tradisi Dukderan
Dukderan adalah salah satu tradisi menyambut bulan ramadhan. Tradisi dukderan berlangsung di berbagai tempat di Jawa Tengah. Tak mau ketinggalan juga di desa kecil di Kabupaten Demak setiap tahun rutin mengadakan tradisi dukderan di sekitar masjid Brumbung yang berada di tengah desa Brumbung Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak. Masjid ini adalah salah satu peninggalan wali songo yang sekarang dalam perbaikan.
Tradisi ini berawal sejak tahun 2000an, awalnya hanya ada satu dua orang warga sekitar yang berjualan kue srabi dan sayur buat berbuka puasa. Pedagang itu ramai sekali pembelinya, penjualpun bertambah. Seiring berkembangnya zaman perangkat desa membuat sebuah pesta rakyat untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah atau yang sering dikenal dukderan. Ketika kegiatan itu berlangsung semua warga sekitar diminta untuk berjualan jajanan khas untuk ramadhan. Dari mulai kue serabi, es kolak, gendhar pecel, dan makanan lain khas ramadhan. Selain itu perangkat desa mengundang group marching band atau dalam bahasa jawa dramben. Sehingga tradisi takbiran semakin ramai. Pengunjung dukderan setiap tahun bertambah banyak.
Pada tahun 2015 ini tradisi takbiran tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini berlangsung hingga sampai dua hari. Hari pertama pedagang mulai berdatangan hingga memenuhi pelataran masjid dan ada di sepanjang jalan menuju masjid. Hari kedua tradisi dukderan samakin ramai dengan adanya group marching band dari MI Ibrohimiyah dan MTS Asysyarifah yang berkeliling di desa Brumbung untuk menarik perhatian pengunjung. Group marching band sudah bersiap mulai pukul 1 di halaman masjid Brumbung kemudian berkeliling desa brumbung dan berakhir di halaman masjid juga.
Ba'da asyar para pengunjung dari berbagai desa di kecamatan Mranggen mulai berdatangan ke halaman masjid yang sudah disambut dengan gruop rebana dari desa brumbung dan klotean dari anak-anak remaja desa Brumbung serta berbagai macam makanan, baju, mainan anak-anak dan lain sebagainya. Lebih dari 4000 pengunjung baik orang tua, remaja maupun anak-anak datang ke acara tersebut. Banyak pedagang dan pengunjung sehingga jalan penuh sesak dan macet berjam-jam. Saat menjelang tarawih pun masih terlihat kemacetan dan penjual pun masih menjual dagangannya. Seperti itu lah keramaian tradisi dukderan di desa Brumbung.
Siti Kumaeroh, S.Pd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar